Jelang Pertemuan Kedua, Kim Jong-un Mengaku 'Percaya' Trump

Jelang Pertemuan Kedua, Kim Jong-un Mengaku 'Percaya' Trump

Kabarberitaindonesia99 - Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, mengaku mempercayai Presiden Donald Trump dan optimistis bersama perundingan lanjutan bersama Amerika Serikat menjelang pertemuan ke dua mereka pada Februari mendatang.

"Kim Jong-un menyebutkan bahwa kita bakal mempercayai cara berpikir positif Presiden Trump, menunggu bersama sabar disertai bersama itikad baik dan, bersama bersama AS, maju selangkah demi selangkah menuju obyek yang mendambakan dicapai oleh ke dua negara," demikian pengakuan pemerintah Korut melalui media propaganda KCNA, Kamis (24/1).

KCNA juga melaporkan bahwa Kim "sangat puas" atas surat "luar biasa" berasal dari Trump, juga hasil negosiasi antara delegasi yang ia kirim ke Washington pada pekan lalu. Namun, KCNA tak menyebutkan lebih lanjut.

Pernyataan ini dirilis setelah lebih dari satu pekan selanjutnya Kim perlihatkan bahwa Korut bakal mencari "jalan baru" soal denuklirisasi kecuali AS tetap menerapkan sanksi.

Dilansir Reuters, hal ini dianggap sebagai indikasi bahwa Kim terasa fokus pada pertemuan keduanya bersama Trump sehingga bisa menghasilkan hasil.

KCNA pun perlihatkan bahwa Kim udah memerintahkan jajarannya untuk mempersiapkan konferensi ke dua Korut-AS bersama baik. Gedung Putih perlihatkan bahwa pertemuan itu bakal digelar pada Februari, namun belum tersedia detail lokasinya.

Pertemuan ini adalah tindak lanjut berasal dari KTT pertama mereka di Singapura Juni lalu, yang menghasilkan kesepakatan kerja serupa untuk denuklirisasi menyeluruh di semenanjung Korea. Sejak kala itu, belum tersedia kemajuan vital tentang denuklirisasi.

Kim udah mengindikasikan kepada Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, bahwa dia bakal laksanakan denuklirisasi "terobosan".

Mengutip sejumlah sumber, surat kabar Dong-a Ilbo melaporkan bahwa pejabat senior Korut, Kim Yong-chol, juga udah memberikan hal serupa kala bertemu Trump di Washington pekan lalu.

Dong-a Ilbo mengambil contoh, Korut udah terhubung barangkali memenuhi permohonan AS untuk laksanakan verifikasi denuklirisasi sebelum mereka menghancurkan layanan nuklir Yongbyon.

Sebagai timbal balik, AS terhubung kemungnan untuk melonggarkan batas impor minyak, pembukaan bersyarat zona industri Kaesong di Korut, dan pembangunan kantor penghubung di Pyongyang.

Namun, Gedung Putih perlihatkan bahwa sanksi ekonomi pada Pyongyang tetap tetap berlaku meski pertemuan ke dua ini udah disepakati. Trump menyebutkan "tidak mesti terburu-buru" dan "tidak tersedia batasan waktu" berkaitan negosiasi denuklirisasi.

Di sisi lain, Menlu AS, Mike Pompeo, menyebutkan bahwa AS menghendaki bisa raih "perlucutan senjata besar" Korut pada akhir jaman jabatan Trump kala pada Januari 2021. Namun, ia menampik memberi tambahan tenggat kala pembicaraan.

"Ketua Kim tetap memastikan Presiden Amerika Serikat bahwa dia punya niat laksanakan denuklirisasi dan aku menghendaki pertemuan itu bakal ditunaikan pada akhir Februari, dikala ke dua pemimpin berkumpul, kita bisa mengakibatkan cara besar selama sistem berlangsung," kata Pompeo.

Jika kesepakatan tercapai, Pompeo menghendaki sektor swasta berperan untuk menopang pembangunan Korut di jaman depan.