
Kabarberitaindonesia99 - Mantan Sekretaris Jenderal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu memberi saran pasangan nomer urut dua Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk membangun industri mobil nasional jikalau menang Pilpres 2019. Pengembangan mobil nasional yang dimaksud disebut tidak boleh penuh intrik.
Menurut Said, mobil nasional kudu langsung diwujudkan mengingat pasar otomotif Indonesia amat menjanjikan. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan mobil 2018 raih 1,1 juta unit.
"Bila Prabowo-Sandi menang mobil nasional kudu dipikirkan. Karena permintaan kami besar, pasar kami besar, sumber daya alam, sumber daya manusianya kami ada," kata Said di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).
Said termasuk sempat menyinggung soal Esemka lantaran dulu diajak koleganya untuk turut mempromosikan. Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden Joko Widodo ini mengungkap bahwa itu berlangsung pada 2012.
Namun, Said mengaku menampik dikarenakan mencium aroma tak enak berasal dari proyek mobil Esemka.
"Saya dibujuk beberapa orang untuk endorse (ikut mempublikasikan). Karena yang pencitraan bukan hanya Pak Jokowi, namun banyak orang. Dan aku katakan itu bohong. Sebagai pebisnis mebel, barangkali kala itu Pak Jokowi beranggapan bahwa memicu mobil sama saja bersama merakit mobil. Saya katakan berbeda," ujar Said.
Lebih lanjut, Said mengatakan ada perbedaan soal usaha mobil di era selanjutnya dan era kini.
Dahulu, ia mengatakan pengembangan mobil nasional terhambat penguasaan komponen rancang bangun berasal dari hulu hingga hilir. Sekarang, industri mobil telah mengarah pada industri pesawat terbang di mana seluruh komponennya dapat diproduksi di seluruh dunia.
"Tinggal kebijakannya adalah kami bikin desain sedemikian rupa agar dapat mengolah di Indonesia. Kriterianya kami miliki desain, nama merek dan beberapa komponennya diproduksi di Indonesia. Tidak layaknya mobil Esemka yang komponennya berasal dari luar semua," lanjut Said.
Pada kesempatan yang sama, ahli otomotif dan praktisi industri mobil Mochtar Niode berpendapat bahwa, industri mobil nasional kudu diarahkan kepada mobil listrik.
"Kita miliki seluruh bahan baku untuk mengolah mobil listrik. Kita dapat open desain untuk memilih tipe mobil apa yang cocok untuk Indonesia," ujar Mochtar.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengumumkan bahwa mobnas akan mengacu pada Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Kendaraan roda empat yang diakui mobnas miliki TKDN hingga 80 persen. Namun itu tidak dapat dijadikan acuan dikarenakan kudu lihat kesepakatan antara pemerintah bersama produsen otomotif.
Model kendaraan yang diproduksi lokal bersama TKDN hingga 80 % tetap dapat dihitung bersama jari. Masih banyaknya manufaktur yang tetap merakit kendaraan mengandalkan komponen impor.